Sabtu, 11 Februari 2012

KETERAMPILAN INTELEKTUAL, METODE DISKUSI, PENDIDIKAN IPS






BAB II
KAJIAN PUSTAKA



A. Keterampilan Intelektual
Dalam proses belajar mengajar yang menekankan konstruksi pengetahuan, kegiatan utama yang berlangsung adalah berpikir atau mengembangkan keterampilan intelektual. Karena itu pengorganisasian materi pembelajaran  dilakukan dengan menggunakan keterampilan intelektual untuk mengembangkan suatu eksplanasi. Keterampilan intelektual adalah kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran, pengetahuan bersumber dari materi subyek.

Elaborasi terhadap materi subyek dilakukan menurut aturan intelektual yang elemennya adalah keterampilan intelektual (Siregar, 1998 dalam Farida, 2009). Keterampilan intelektual dapat menunjukkan bagaimana guru mengorganisasikan materi subyek secara logis. Pengorganisasian materi subyek dilaksanakan berdasarkan jenis-jenis tindakan wacana yang dilakukan guru selama proses pembelajaran. Berikut ini klasifikasi keterampilan intelektual menurut D’Angelo (dalam Farida, 2009) sebagai berikut:
1.      Deskripsi, cara untuk menyampaikan atau menggambarkan obyek secara keseluruhan dengan kata-kata yang akurat dari umum ke khusus (spesifikasi dan karakterisasi). Kata-kata yang digunakan menyusun gambaran obyek tersebut dalam kesatuan logika yang utuh meliputi ukuran, bentuk dan elemen pembentuk.
2.      Definisi, merupakan suatu deskripsi abstrak atau penggambaran secara konseptual suatu istilah atau obyek. Definisi adalah suatu cara berpikir dalam batasan-batasan tertentu. Mendefinisikan berarti membuat batasan terhadap suatu obyek dan menyatakan inti sifat alaminya.
3.      Klasifikasi, kemampuan dasar aktivitas mental untuk mengelompokkan gagasan-gagasan dan obyek-obyek sejenis.
4.      Komparasi, kemampuan melihat adanya persamaan-perbedaan.
5.      Analogi, kesimpulan logika yang didasarkan pada alasan adanya kesamaan pada beberapa obyek.
6.      Eksemplifikasi, suatu usaha untuk menggambarkan suatu prinsip umum, pernyataan atau hukum dengan menyebutkan suatu contoh yang lebih spesifik.
7.      Sebab akibat, merupakan dua kata yang saling berhubungan, dimana salah satu akan selalu menerangkan yang lain. Sebab adalah sesuatu yang akan menimbulkan akibat dan bertanggung jawab terhadap timbulnya suatu tindakan, kejadian, kondisi atau hasil. Akibat adalah hasil dari suatu sebab yang dapat berupa kerja atau tindakan.
8.      Proses, merupakan rangkaian dari tingkah laku, perubahan langkah atau operasi yang menghasilkan suatu fakta akhir atau hasil.
9.      Analisis, suatu proses untuk membagi sesuatu yang kompleks menjadi unit-unit yang lebih sederhana yang dilakukan secara sistematis.
10.   Pemecahan masalah, pemberian solusi terhadap persoalan yang dihadapi dengan menggunakan dasar pengetahuan yang telah dimiliki.

Muslich (2007) mengatakan, ”bahwa sebagaimana tubuh kita mempunyai struktur tertentu agar dapat berfungsi, pikiran kita juga mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan berorganisasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema juga biasa disebut sebagai konsep, gambaran atau kategori dalam diri manusia yang terjadi ketika manusia menggunakan panca inderanya. Gambaran tersebut akan semakin berkembang dan lengkap sesuai dengan tingkat kedewasaan manusia”.

Gagne mengatakan (dalam Slameto, 2003), “kemampuan intelektual adalah manusia mengadakan interaksi dengan dunia luar dengan menggunakan simbol–simbol”. Kemampuan belajar cara inilah yang disebut “kemampuan intelektual”, misalnya membedakan huruf m dan n, menyebut tanaman yang sejenis.

Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan lambang yang meliputi, deskripsi, klasifikasi, definisi, komparasi, analogi, eksemplifikasi, sebab akibat, proses dan analisis, serta pemecahan masalah.




B. Metode Diskusi
1.   Pengertian Metode Diskusi
Metode diskusi tidak sekedar perdebatan antar murid atau perdebatan antara guru dan murid. Juga diskusi tidak hanya terdiri dari mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menerima jawabannya. Diskusi ialah usaha seluruh kelas untuk mencapai pengertian di suatu bidang pembelajaran, memperoleh pemecahan bagi sesuatu masalah, menjelaskan sebuah ide, atau menentukan tindakan yang akan diambil.

Menurut Kiranawati (2007), metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Roestiyah N.K (2008) mengatakan, “metode diskusi adalah salah satu tehnik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, dan memecahkan masalah. Dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja”.

  1. Langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode diskusi. (Suparlan, 2007).
a.       Mengatur meja dan kursi siswa agar siswa dapat berhadap-hadapan atau bertatap muka. Sulit berdiskusi hanya dengan punggung.
b.      Tentukan prosedurnya, sehingga para siswa bisa dengan cepat menyesuaikan untuk bergabung dalam kelompok besar atau kemudian membentuk kelompok kecil tanpa membuang-buang waktu.
c.       Melibatkan siswa untuk memilih topik atau tajuk yang akan didiskusikan.
d.      Menentukan pemimpin diskusi.
e.       Saran kepada pemimpin diskusi untuk dapat mengaktifkan siswa yang pasif.
f.       Guru memberi arahan agar kelas dapat menyepakati aturan-aturan tertentu misalnya, berbicara secara bergiliran, tidak bicara lama-lama, menyatakan pandangan, tidak agresif dan memberikan kesempatan pada peserta lain untuk ambil bagian.
g.      Memberikan arahan.
h.      Evaluasi, misalnya:
1)      Tingkat partisipasi.
2)      Mutu partisipasi
3)      Evaluasi dalam aspek pengetahuan (tes hasil belajar).

  1. Kelebihan-Kelebihan dan Kelemahan-Kelemahan dari Metode Diskusi.
Kelebihan-kelebihan dari metode diskusi:
a.       Merangsang kreativitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan-prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
b.      Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
c.       Memperluas wawasan.
d.      Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
Kelemahan-kelemahan dari metode diskusi:
a.       Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
b.      Tidak dapat dipakai pada kelompok besar.
c.       Peserta mendapat informasi yang terbatas.
d.      Mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.(Djamarah, 1995).

C.  Pengetahuan Sosial
1.   Pengertian Pengetahuan Sosial
Pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan (Kurikulum, 2004). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai (Permen, 2006).

Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

Pendidikan IPS adalah suatu program pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniti, yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan (Wesley, dalam Darsono, 2007).

Secara ideal, Kosasih Djahiri (1993) mengkonsepsikan program pendidikan IPS yang: (a) secara kognitif melatih dan membekali anak didik dengan conceptual-knowledge yang layak, kemampuan berpikir dan memecahkan masalah yang cukup; (b) secara metacognitive-awareness and skills membekali kemampuan penalaran dan belajar yang luas; (c) secara moral-afektual membina perbekalan tatanan nilai, keyakinan dan keadilannya maupun pengalaman dan kemampuan afektual siswa; dan (d) secara sosial membina ketegaran akan harga diri dan self-concept serta kemampuan melakukan interpersonal relationship.

Tiap unsur kelompok pengetahuan dalam pendidikan IPS terdiri dari fakta, konsep, generalisasi, dan teori (Banks dalam Darsono, 2007). Pengajaran pendidikan IPS diharapkan dapat menolong murid untuk mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengenal dan memecahkan problem, menganalisis, menentukan nilai, menyampaikan pendapat dan membuat keputusan yang rasional, sehingga dapat membantu dalam memecahkan problema.

2.   Tujuan Pengetahuan Sosial
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a.       Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
b.      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
c.       Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
d.      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global. (Kurikulum, 2004).

Terdapat beberapa orientasi pendidikan IPS yang sebenarnya dari waktu ke waktu akan berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yaitu:
a.       Menanamkan etika sosial, dengan mengupayakan peserta didik agar berprilaku sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku, seperti berkelakuan baik, berani membela kebenaran dan keadilan, bekerja sama, suka menolong dan sebagainya.
b.      Orientasi nilai disiplin ilmu yang dapat memperkuat orientasi pertama tadi. Dalam orientasi ini, ilmu-ilmu variabel-variabelnya, dengan hukum-hukumnya, sehingga terjadi peristiwa sosial tertentu.
c.       Orientasi keterampilan teknik dan partisipasi sosial dalam kehidupan sosial di tempat mereka berada. Dari praktek kehidupan nyata itulah siswa belajar lebih jauh, sehingga akhirnya mereka lebih adaptif terhadap kehidupan yang senantiasa berubah.
d.      Orientasi kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi yang diperlukan setelah siswa mampu  berpartisipasi aktif. Mereka mampu berinovasi dalam memperbaiki kualitas hidupnya, bahkan juga masyarakatnya ke arah yang lebih baik (Somantri, 1993).




3.      Fungsi Pengetahuan Sosial
Pengetahuan sosial di SD/MI berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan siswa tentang masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. (Kurikulum, 2004)

Adapun fungsi pendidikan IPS di SD ialah mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengajaran sejarah berfungsi menumbuhkan rasa kebangsaan dan kebanggaan terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini.
Berdasarkan spesifikasi pengertian hasil belajar pendidikan IPS, fungsi dan tujuan pendidikan IPS tersebut nampak betapa bidang studi pendidikan IPS di SD merupakan bidang studi yang penting. Untuk mencapai tujuan yang amat strategis tersebut tentu dibutuhkan upaya inovatif dalam proses belajar mengajar.

  1. Konsep  IPS di Indonesia
Menurut Solihatin dan Raharjo (2005) konsep IPS di Indonesia adalah sebagai berikut:
a.       Interaksi
Interaksi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, sehingga manusia harus mampu melakukan interaksi dengan pihak lain. Interaksi dapat dilakukan dengan secara verbal maupun nonverbal. Di dalam interaksi harus memiliki setidaknya tiga unsur, yaitu komunikator (orang yang melakukan komunikasi), komunikan (orang yang dijadikan sasaran atau objek), dan informasi (bahan yang dijadikan komunikasi dan interaksi).
b.      Saling Ketergantungan
Setiap orang dapat dipastikan memerlukan orang lain, meskipun hanya untuk berinteraksi sejenak. Oleh karena itu, manusia harus menghargai manusia lainnya,  sebab baik secara langsung atau tidak langsung seseorang akan memerlukan bantuan dari orang lain.
c.       Kesinambungan dan Perubahan (Continuity and Change)
Sejumlah nilai, simbol dan kebiasaan yang lahir dari satu generasi senantiasa dipelihara dan disosialisasikan kepada generasi berikutnya, meskipun terjadi pembaharuan dan perubahan, tetapi inti dan muatan nilai, simbol dan kebiasaannya pada umumnya tetap diteruskan secara berkesinambungan.
d.      Keragaman/Kesamaan/Perbedaan
Terjadinya keragaman, perbedaan dan kesamaan adalah karena setiap individu menginginkan keberadaan dirinya (eksistensinya).
e.       Konflik dan Konsensus.
Konflik dan konsensus sering terjadi di masyarakat bahkan bisa terjadi di dalam diri sendiri. Konflik dan konsensus  dapat dilihat pada contoh peristiwa G 30 S/PKI yang merupakan konflik dan  melahirkan konsensus yang terkenal pada tahun 1966.



f.       Pola (Pattern).
Pola dapat diartikan sebagai suatu corak, model atau bentuk yang sama yang ditiru, yang terulang dan bersifat repetitif. Setiap pribadi maupun masyarakat memiliki pola hidup sendiri.
g.      Tempat (Lokasi)
Setiap mahluk hidupbaik biotik maupun abiotik pasti akan menempati ruang dan lokasi.
h.      Kekuasaan (Power)
Kekuasaan (Power) adalah kemampuan membuat orang lain melakukan sesuai dengan yang dikehendaki. Kekuasaan memiliki tiga elemen utama, yaitu pengaruh (influence), wewenang (authorithy), dan kekuatan (force).
i.        Nilai kepercayaan
Nilai, simbol, dan lambang adalah sesuatu yang berharga dan memiliki karakteristik tertentu. Nilai (value) merupakan keyakinan yang dipegang dan dilaksanakan dari generasi ke generasi secara turun-temurun dipelihara.
j.        Keadilan dan Pemerataan
Keadilan dan pemeratan merupakan dua permasalahan yang tidak akan pernah hilang dari pandangan setiap orang. Keadilan merupakan dambaan setiap orang. Adil berarti menempatkan “sesuatu” pada tempatnya. Keadilan akan lebih mudah dirasakan dengan jalan melakukan pemerataan.

k.      Kelangkaan (Scarcity)
Apabila permintaan bertambah dan jumlah barang terbatas maka harga akan naik. Sebaliknya apabila permintaan berkurang dan jumlah barang melimpah maka harga akan turun (teori ekonomi).  Maka akan menyebabkan kelangkaan barang.
l.        Kekhususan (Specialization)
Dalam perkembangan hidup dewasa ini pola hidup telah lebih mengarah pada hal-hal yang khusus (spesifik).
m.    Budaya (culture)
Budaya yang ada di Indonesia jika merupakan kebudayaan yang baik haruslah dipertahankan, jika tidak maka harus dihilangkan.
n.      Nasionalisme.
Nasionalisme merupakan sense atau rasa cinta yang ada pada setiap warga negara terhadap negaranya.



     
           






2 komentar:

  1. boleh tau dapat refrensi tentang keteramiplan intlektual dr buku apa?

    BalasHapus
  2. assalamualaikum... boleh tau referensi bukunya?

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, jika berkenan untuk berkomentar dengan sopan